Sabtu, 10 Oktober 2015

Sejarah Honda Tiger


Motor ini sempat menjadi idola sejumlah kalangan biker, karena dianggap memiliki beberapa kelebihan. Tak heran, jika kemudian komunitas motor 'harimau' ini menjamur di seantero nusantara.

Perjalanan panjang Tiger dimulai pada tahun 1993. Motor Sport dengan kapasitas mesin 200cc ini dianggap sebagai prestige yang tinggi pada saat itu. Wajar, pada tahun tersebut, motor produksi dalam negeri yang memiliki kapasitas tertinggi adalah Honda Tiger.

Pada tahun 1993, generasi pertama Honda Tiger sudah keliatan gagah dibanding motor-motor lain pada masanya. Mesin 200cc dipadu bodi dan tangki yang kekar bikin pengendaranya terlihat macho. Pada saat itu, harganya dibanderol sekira Rp8 juta. Angka yang cukup tinggi, karena belum krisis moneter.

Edisi kedua kemudian lahir pada 1997. Perbedaannya sebatas pada perubahan warna rumah lampu depan dari hitam dof menjadi krom perak metalik. Tersedia juga pilihan pelek palang berjari enam keluaran Enkei.

Saat itu, popularitas Tiger mulai beranjak tinggi di kalangan pehobitouring. Tiger 2000 memiliki posisi berkendara yang tegak, sehingga pas buat diajak jalan jauh. Alhasil, Tiger 2000 disukai banyak klub motor sebagai andalan menjelajahi nusantara. 

Mesinnya dari keluarga GL Pro Neo Tech ini terkenal bandel. Banyak komponen bisa tukar pasang dari keluarga CB100, GL100 dan GL Pro CDI, sehingga tidak merepotkan penggunanya dalam mencari suku cadang.

Pada 2002, mesin Honda Tiger berganti kode menjadi GL-200S. Motor itu pun mengklaim sebagai Super Cruiser. Perubahannya terdapat di sejumlah bagian.
Sebut saja perubahan body misalnya, dari lampu belakang dan lampu rem belakang menggunakan dua bohlam berjajar horizontal, lampu depan menggunakan reflektordiamond-cuthandlebar belakang menyatu, indikator speedometer & tachometer berwarna jingga dengan dasar kelabu, logo Tiger 2000 di tangki berjenis emblem logam, rumah lampu depan & lampu sein berlapis krom perak, behel belakang berubah dari model samping menjadi model atas
Perubahan besar-besaran
Perubahan besar-besaran yang memoles rupa Tiger juga dilakukan pada 2006. Bahkan, kode mesin pun diganti menjadi GL-200D untuk tipe jari-jari, dan GL-200R untuk tipe cast wheel. Perubahan yang dilakukan tentunya bikin tampilan Tiger semakin kekar.

Anda bisa membandingkan jika Tiger keluaran 2006, sangat berbeda jauh tampilannya dengan generasi-generasi sebelumnya. Sebut saja, tangki baru dengan shroud besar, bodi belakang berbentuk meruncing,  lampu rem belakang menggunakan dua bohlam berjajar vertikal, lampu depan dengan tambahan mini visor di atasnya.

Lalu handlebar belakang terpisah kiri dan kanan, logo baru berjenis stiker di tangki bertuliskan Tiger, desain velg racing baru berupa Enkei palang tiga, shockbreaker belakang dengan tambahan reservoir oli untuk edisi cast wheel, blok crankcase mesin kiri dan kanan dicat hitam doff, desain knalpot baru dengan pelindung panas, dan diperkenalkannya SASS (Secondary Air Supply System) untuk mengurangi tingkat emisi gas buang knalpot.

Sempat disebut aneh

Namun, perubahan yang bisa dibilang out of the box dilakukan Honda pada 2008. Honda Tiger berani tampil beda dengan lampu depan asimetris. Banyak yang mengakui desain ini aneh. Namun, sebetulnya desain ini mengacu pada tren motor naked sport di Eropa yang justru lazim menggunakan lampu asimetris.

Untuk mengakali pasar yang mungkin masih canggung dengan lampu model tersebut, motor yang berkode GL-200R1 ini juga memilik varian single headlamp.

20 tahun malang melintang melakoni debut, Tiger akhirnya disuntik mati dan tak lagi diproduksi. Yang tersisa, hanya kenangan dan sejumlah motor yang masih kita lihat di jalan raya. Sebagian pihak, bahkan meminta agar Honda kembali menghidupkan kembali Tiger dengan sejumlah perubahan. Sebab, pasar motor di kelas 200cc kini tengah sepi produk.

Menanggapi hal itu, Deputy Head of Corporate Communication AHM Ahmad Muhibbuddin kepada VIVA.co.id, mengatakan hingga kini pihaknya belum berencana menyiapkan penerus Tiger di Indonesia. Sejauh ini, Honda menyatakan masih fokus melemparkan motor sportnya di kelas 150cc, seperti Verza, Mega Pro, dan CB150R. Terbaru, Honda merilis Sonic 150R dan CBR150R.

"Sejauh ini, kami masih belum berencana merilis penerus Tiger. Untuk pasarnya mungkin ada kecenderungan untuk berkembang, tetapi sejauh ini masih belumlah," tuturnya. 

Ia hanya menyampaikan, Honda mengarahkan konsumen yang menginginkan Tiger untuk melirik ke line up yang dimilikinya, baik mesin lebih besar (250cc) maupun lebih kecil (150cc).

“DNA-nya pasti yang dicari tetap motor sport. Untuk Honda, semua kembali ke konsumen itu sendiri, karena kami memiliki motor sport mulai dari 150 cc sampai di atas 200 cc. Konsumen bisa beralih ke sana,” ujar Muhib.

Cikal bakal Tiger terbaru?

Kendati demikian, sebenarnya upaya menghidupkan kembali penerus Tiger telah dilakukan Honda. Salah satunya kehadiran CB190R yang baru-baru ini meluncur di negeri Tirai Bambu, Tiongkok.

Sejumlah pihak pun menyebut motor sport bergaya naked nan futuristik itu merupakan cikal bakal penerus Tiger di Indonesia.

Namun, lagi-lagi Honda Indonesia menyatakan hal itu tidak demikian. "Belum ada. Kita kan kemarin untuk segmen sport sudah kasih CB150 dan Honda Sonic, jadi masih belum ada untuk saat ini yang berkapasitas mesin 200cc,” katanya.

Diketahui, meskipun merajai penjualan di segmen skuter matik, Honda hingga kini masih belum dapat mendapatkan posisi pertama untuk penjualan pada segmen sport setelah Tiger disuntik mati.

Lantas, akankah Honda hidupkan Tiger kembali? Waktu yang menjawab. (asp)

sumber :http://otomotif.news.viva.co.id/
Bagikan
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share